sejarah terbentuknya provinsi sulawesi barat
SEJARAH TERBENTUKNYA
PROVINSI SULBAR
DI
S
U
S
U
N
OLEH
Kelompok
1
:
INSTITUT
AGAMA ISLAM (IAI) DDI
POLEWALI
MANDAR
TAHUN
AKADEMIK 2015/2016
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur kita panjatkan kehadirat Allah swt karena atas kelimpahan rahmat dan
karunia-nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Sejarah
terbentuknya sulbar dengan lancar dan baik.
Makalah
ini disusun untuk membantu mengembangkan kemampuan pemahaman pembaca terhadap sejarah
terbentuknya sulbar. Hal tersebut dapat dipahami melalui
pendahuluan, pembahasan masalah, serta penarikan garis kesimpulan dalam makalah
ini.
Ucapan
terima kasih penyusun sampaikan kepada dosen mata pelajaran bahasa
dan budaya lokal. Yang telah memberikan kesempatan
kepada kami untuk berkarya menyusun makalah Proses Pengembangan Kurikulum.
Tak lupa kami juga sampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan
bantuan berupa konsep dan pemikiran dalam penyusunan makalah ini.
Dengan
segala kerendahan hati, saran dan kritik sangat kami harapkan dari para pembaca
guna peningkatan pembuatan makalah pada tugas yang lain dan pada waktu yang
akan datang.
DAFTAR
ISI
HALAMAN
JUDUL..………………………………………….......... i
KATA
PENGANTAR…..……………………………........................ ii
DAFTAR
ISI...………………………………………......................... iii
BAB
1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang…………………………………………………. 1
B. Rumusan Masalah………............................................................. 1
C. Tujuan Penulisan.........................................................................1
BAB
II
PEMBAHASAN
SEJARAH
TERBENTUKNYA SULAWESI BARAT..................... 2
1. LETAK GEOGRAFIS....................................................... ..... 3
2.
DEMOGRAFI................................................................. ..... 4
3. TOFOGRAFI, JENIS TANAH DAN
IKLIM..................... 4
4. POTENSI PENGEMBANGAN LAHAN PERTANIAN..... 5
5. POTENSI
SUMBER DAYA ALAM SUBSEKTOR PETERNAKAN..................................................................... 6
BAB
III
PENUTUP
KESIMPULAN……………………………………………………. 9
KRITIK DAN
SARAN................................................................ 9
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………… 10
BAB I
A. LATAR BELAKANG
GeneologisejarahmasyarakatMandardapatdilacakdariceritadantuturan
yang populer di kalanganmasyarakatMandar (termasukMamasa)
tentangPongkapadangdanTorije'ne, yang dianggapsebagaimanusiapertama yang
mendiamiwilayahMandartepatnya di daerah yang
sekarangdikenaldengannamaTabulahan. PongkapadangdanTorije'ne yang bertemu,
menikahdanmenetap di Tabulahanmelahirkantujuh orang anak yang
menjadicikalbakaldarilahirnyasejarahMandarselanjutnya.Ketujuhanaktersebutatau
yang populerdengansebutan tau pitu.
Turunandarihasilpernikahanputera-puteriPongkapadangdanTorije'ne
yang berjumlahsebelas orang atau tau sampulo mesa
(danturunan-turunanselanjutnya) inilah yang kemudianmenyebardanmendiamiwilayah-wilayah
yang dikenaldengansebutanpituba'banabinanga, pituulunnasalu,
dankaruatiparitti'nauhai yang saatinidikenalsebagaibagiandariwilayah Sulawesi
Barat (Polman, Mamasa, Majene, Mamuju, Mamuju Utara, danMamuju Tengah).
Setelahperkembangbiakanmanusiatersebut,
sudahbanyakdaerah-daerahhunian,
daerah-daerahhuniantersebutberkelompokdanmembuatsuatukomunitastersendiri yang
manasetiapkomunitasdipimpinolehTomakaka.Tomakakaberasaldari kata
tomakadipakakaartinya orang yang bisadijadikankakak (panutan).JumlahTomaka yang
pernahada di daerahMandarmenurutLeyds (dikutifolehRahman, 1988) berjumlah 41
(empatpuluhsatu) Tomaka
B. Rumusan Masalah
1. Proses
terbentuknya SulBar
2. Letak geografis
3. Bagaimana sumber perekonomian sulbar
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui Proses Terbentuknya Sulbar
2. Mengetahui letak geografis Sulbar
3. Mengetahui Bagaimana
Sumber perekonomian sukbar
BAB II
PEMBAHASAN
Sejarah Terbentuknya Sulawesi Barat Bertolak dari semangat "Allamungan Batu
di Luyo" yang mengikat Mandar dalam perserikatan "Pitu Ba'bana
Binanga dan Pitu Ulunna Salu" dalam sebuah muktamar yang melahirkan
"Sipamandar" (saling memperkuat) untuk bekerja sama dalam membangun
Mandar.
Semangat "Sipamandar" inilah, sehingga sekitar tahun
1960 oleh tokoh masyarakat Manda yang ada di Makassar yaitu antara lain : H. A.
Depu, Abd. Rahman Tamma, Kapten Amir, H. A. Malik, Baharuddin Lopa, SH. dan
Abd. Rauf mencetuskan ide pendirian Provinsi Mandar bertempat di rumah Kapten
Amir, dan setelah Sulawesi Tenggara memisahkan diri dari Provinsi Induk yang
saat itu bernama Provinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara (Sulselra). Ide
pembentukan Provinsi Mandar diubah menjadi rencana pembentukan Provinsi
Sulawesi Barat (Sulbar) dan ini tercetus di rumah H. A. Depu di Jl.
Sawerigading No. 2 Makassar, kemudian sekitar tahun 1961 dideklarasikan di
Bioskop Istana (Plaza) Jl. Sultan Hasanuddin Makassar dan perjuangan tetap
dilanjutkan sampai pada masa Orde Baru perjuangan tetap berjalan, namun selalu
menemui jalan buntu yang akhirnya perjuangan ini seakan dipeti-es-kan sampai
pada masa Reformasi barulah perjuangan ini kembali diupayakan oleh tokoh
masyarakat Mandar sebagai pelanjut perjuangan generasi lalu yang diantara
pencetus awal hanya H. A. Malik yang masih hidup, namun juga telah wafat dalam
perjalanan perjuangan dan pada tahun 2000 yang lalu dideklarasikan di Taman
Makam Pahlawan Korban 40.000 jiwa di Galung Lombok, kemudian dilanjutkan dengan
Kongres I Sulawesi Barat yang pelaksanaannya diadakan di Majene dengan mendapat
persetujuan dan dukungan dari Bupati dan Ketua DPRD Kab. Mamuju, Kab. Majene
dan Kab.Polman.
Tuntutan memisahkan diri dari Sulawesi Selatan sebagaimana di
atas sudah dimulai masyarakat di wilayah Eks Afdeling Mandar sejak sebelum
Indonesia merdeka. Setelah era reformasi dan disahkannya Undang Undang Nomor 22
Tahun 1999, kemudian menggelorakan kembali perjuangan masyarakat di tiga
kabupaten, yakni Polewali Mamasa, Majene, dan Mamuju untuk menjadi provinsi.
Sejak tahun 2005, tiga kabupaten (Majene, Mamuju dan Polewali
Mamasa) resmi terpisah dari Provinsi Sulawesi Selatan menjadi Provinsi Sulawesi
Barat, dengan ibukota Provinsi di kota Mamuju. Selanjutnya, Kabupaten Polewali
Mamasa juga dimekarkan menjadi dua kabupaten terpisah (Kabupaten Polewali Mandar
dan Kabupaten Mamasa).
Untuk jangka waktu cukup lama, daerah ini sempat menjadi salah
satu daerah yang paling terisolir atau ‘yang terlupakan’ di Sulawesi Selatan. Ada beberapa
faktor penyebabnya, antara lain, yang terpenting yaitu jaraknya yang cukup jauh
dari ibukota provinsi (Makassar); kondisi geografisnya yang bergunung gunung
dengan sarana prasarana jalan yang buruk; mayoritas penduduknya (etnis Mandar
dan beberapa kelompok sub etnik kecil lainnya) yang lebih egaliter, sehingga
sering berbeda sikap dengan kelompok etnis mayoritas dan dominan (Bugis dan
Makassar) yang lebih hierarkis (atau bahkan feodal) pada awal tahun 1960an.
Sekelompok intelektual muda Mandar pimpinan almarhum Baharuddin
Lopa (Menteri Kehakiman dan Jaksa Agung pada masa pemerintahan Presiden
Abdurrahman Wahid, 1999 – 2000, dan sempat menjadi ‘aikon nasional’ gerakan
anti korupsi karena kejujurannya yang sangat terkenal) melayangkan ‘Risalah
Demokrasi’ menyatakan ketidaksetujuan mereka terhadap beberapa kebijakan
politik Jakarta dan Makassar; serta fakta sejarah daerah ini sempat menjadi
pangkalan utama ‘tentara pembelot’ (Batalion 310 pimpinan Kolonel Andi Selle),
pada tahun 1950-60an, yang kecewa terhadap beberapa kebijakan pemerintah dan
kemudian melakukan perlawanan bersenjata terhadap Tentara Nasional Indonesia
(TNI).
Selain sebagai daerah lintas gunung dan hutan untuk memperoleh
pasokan senjata selundupan melalui Selat Makassar oleh gerilyawan Darul Islam
(DI) pimpinan Kahar Muzakkar yang berbasis utama di Kabupaten Luwu dan
Kabupaten Enrekang di sebelah timurnya. Pembentukan daerah kabupaten baru di
wilayah Sulawesi Barat masih dalam proses dan dalam prosesnya masih sering
diiringi oleh permasalahan permasalahan yang merupakan efek penyatuan pendapat
yang belum memiliki titik temu.
Sulawesi Barat atau disingkat SULBAR merupakan pemekaran dari Provinsi Sulawesi Selatan yang merupakan propinsi ke – 33 dan diresmikan sejak 5 Oktober 2004 berdasarkan Undang Undang Nomor 26 Tahun 2004, dengan ibukota provinsi adalah Mamuju.KabupatenMamuju.
Letak Sulawesi Barat Wilayah Provinsi Sulawesi Barat meliputi 5 (lima) Kabupaten yaitu : Kabupaten Mamuju Utara, Kabupatan Mamuju, Kabupaten Majene, Kabupaten Polewali Mandar dan Kabupaten Mamasa. 58 Kecamatan, 50 Kelurahan dan 393 desa.Luas wilayah 16.937,18 km2, jumlah penduduk sekitar 1.070.475 jiwa dengan komposisi penduduk 80% petani dan 7,5% nelayan dengan tingkat kemiskinan mencapai 19,03%.
Berada pada jalur segitiga Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Kalimantan Timur. Adapun batas-batas wilayah sebagai berikut :
Sulawesi Barat atau disingkat SULBAR merupakan pemekaran dari Provinsi Sulawesi Selatan yang merupakan propinsi ke – 33 dan diresmikan sejak 5 Oktober 2004 berdasarkan Undang Undang Nomor 26 Tahun 2004, dengan ibukota provinsi adalah Mamuju.KabupatenMamuju.
Letak Sulawesi Barat Wilayah Provinsi Sulawesi Barat meliputi 5 (lima) Kabupaten yaitu : Kabupaten Mamuju Utara, Kabupatan Mamuju, Kabupaten Majene, Kabupaten Polewali Mandar dan Kabupaten Mamasa. 58 Kecamatan, 50 Kelurahan dan 393 desa.Luas wilayah 16.937,18 km2, jumlah penduduk sekitar 1.070.475 jiwa dengan komposisi penduduk 80% petani dan 7,5% nelayan dengan tingkat kemiskinan mencapai 19,03%.
Berada pada jalur segitiga Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Kalimantan Timur. Adapun batas-batas wilayah sebagai berikut :
~ Sebelah Utara :
Berbatasan dengan Sulawesi Tengah
~ Sebelah Timur : Berbatasan dengan Sulawesi Selatan
~ Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Sulawesi Selatan
~ Sebelah Barat : Berbatasan dengan Selat Makassar dan Kalimantan Timur.
~ Sebelah Timur : Berbatasan dengan Sulawesi Selatan
~ Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Sulawesi Selatan
~ Sebelah Barat : Berbatasan dengan Selat Makassar dan Kalimantan Timur.
1.
Geografis
Provinsi Sulawesi Barat yang beribukota di Mamuju terletak
antara 00121 - 30361 Lintang Selatan dan 118043'15" Bujur Timur, yang
berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Tengah di sebelah utara dan selat Makassar
sebelah barat.Batas sebelah selatan dan timur adalah Provinsi Sulawesi
selatan.Jumlah sungai yang mengaliri wilayah Sulawesi Barat tercatat sekitar 8
aliran sungai, dengan jumlah aliran terbesar di kabupaten Polewali Mandar,
yakni 5 aliran sungai. Sungai terpanjang tercatat ada dua sungai yakni Sungai
Saddang yang mengalir meliputi Kabupaten Tator, Enrekang, Pinrang dan Polewali
Mandar serta Sungai Karama di Kabupaten Mamuju. Panjang kedua sungai tersebut
masingmasing150km.
Di Sulawesi Barat terdapat 2 gunung yang mempunyai ketinggian di atas 2.500 meter di atas permukaan laut. Gunung tersebut ini berdiri tegak di Kabupaten Mamuju.Luas wilayah Provinsi Sulawesi Barat tercatat 16.937,16 kilometer persegi yang meliputi 5 kabupaten. Kabupaten Mamuju merupakan Kabupaten terluas dengan luas 8.014,06 kilometer persegi atau luas kabupaten tersebut merupakan 47,32 persen dari seluruh wilayah Sulawesi Barat.
Di Sulawesi Barat terdapat 2 gunung yang mempunyai ketinggian di atas 2.500 meter di atas permukaan laut. Gunung tersebut ini berdiri tegak di Kabupaten Mamuju.Luas wilayah Provinsi Sulawesi Barat tercatat 16.937,16 kilometer persegi yang meliputi 5 kabupaten. Kabupaten Mamuju merupakan Kabupaten terluas dengan luas 8.014,06 kilometer persegi atau luas kabupaten tersebut merupakan 47,32 persen dari seluruh wilayah Sulawesi Barat.
2.
Demografi
Penduduk Sulawesi Barat berdasarkan hasil survei Sosial dan
Ekonomi Nasional (SUSENAS) Tahun 2006 berjumlah 992.656 jiwa yang tersebar di 5
kabupaten, dengan jumlah penduduk terbesar yakni 356.391 jiwa mendiami
Kabupaten Polewali Mandar. Secara keseluruhan jumlah penduduk yang berjenis
kelamin laki-laki lebih banyak dari penduduk yang berjenis kelamin perempuan,
hal ini tercermin dari angka rasio jenis kelamin yang lebih besar dari jumlah
penduduk perempuan Angkatan kerja, Penduduk Usia Kerja (PUK) didefenisikan
sebagai penduduk yang berumur 10 tahun ke atas.Penduduk usia kerja terdiri dari
Angkatan Kerja dan Bukan Angkatan kerja adalah penduduk yang bekerja atau yang
sedang mencari pekerjaan, sedangkan bukan angkatan kerja adalah mereka yang
bersekolah, mengurus rumah tangga atau melakukan kegiatan lainnya.
Penduduk usia kerja di daerah Sulawesi Barat pada tahun 2006
berjumlah 751.180 jiwa. Dari seluruh penduduk usia kerja yang masuk menjadi
angkatan kerja berjumlah 444.324 jiwa atau lebih dari 50 persen dari seluruh
Penduduk Usia Kerja. Dari seluruh angkatan kerja yang berjumlah 444.324 jiwa
tercatat bahwa 53.215 orang dalam status mencari pekerjaan.dari angka tersebut
dapat dihitung tingkat pengangguran terbuka di Sulawesi Barat pada tahun 2006,
yakni sebesar 11,98 persen. Angka ini merupakan rasio antara pencari pekerjaan
dan jumlah angkatan kerja. Dilihat dari segi lapangan usaha, sebagian besar
penduduk Sulawesi Barat bekerja pada sektor pertanian yang berjumlah 276.299
orang atau 70,64 persen dari jumlah penduduk yang bekerja. Sektor lainnya yang
juga menyerap tenaga kerja cukup besar adalah sektor perdagangan dan jasa-jasa.
3. Topograpi, Jenis Tanah dan Iklim
Keadaan Topografi Wilayah Provinsi Sulawesi Barat terdiri dari
dataran rendah dan daratan tinggi. Luas wilayah ±16.787 km2, panjang garis
pantai ±750,72 km dengan luas kewenangan laut ±5.580,35 km, kultur yang Agraris,
dan iklim tropis type B. Daerah bergelombang, berbukit sampai bergunung dengan
kemiringan agak curam dan sangat curam, masing-masing meliputi; Bagian Timur
Kabupaten Mamuju, Bagian Utara Kabupaten Polewali Mandar, Kabupaten Majene dan
Mamasa. Sedangkan jenis tanah di Sulawesi Barat berdasarkan laporan survey
Lembagan Penelitian Tanah Bogor terdiri dari
- Tanah Latosol
terdapat pada daerah Kabupaten Majene, Mamuju dan Mamuju Utara.
- Tanah Alluvial dan Glay, terdapat pada daerah Polewali Mandar.
- Tahan Podsolik, terdapat pada sebagian besar Kabupaten Mamuju, Polewali Mandar dan Mamasa.
- Tanah Alluvial dan Glay, terdapat pada daerah Polewali Mandar.
- Tahan Podsolik, terdapat pada sebagian besar Kabupaten Mamuju, Polewali Mandar dan Mamasa.
Keadaan iklim dengan memperbandingkan bulan kering dan bulan
basah, Provinsi Sulawesi Barat mempunyai 3 (Tiga) tipe iklim yaitu : Type A
adalah daerah yang paling sedikit bulan keringnya (1½ bulan) meliputi Kabupaten
Mamuju Utara, Mamuju, Polewali Mandar, Majene dan Mamasa. Type B dengan bulan
kering (1½ s/d 3 bulan) terdiri dari Kabupaten Majene dan Polewali Mandar.Type
C dengan bulan kering (3 s/d 4 ½ bulan) sebagaian Kabupaten Majene dan Polewali
Mandar.
4. Potensi Pengembangan Lahan Pertanian
Pembangunan pertanian di Sulawesi Barat sangat berpeluang dan
memiliki potensi Sumber Daya Alam yang sangat besar. Tanaman Pangan, Sulawesi
Barat adalah merupakan daerah penghasil tanaman pangan yang cukup besar di
Kawasan Timur Indonesia. Selain Padi sebagai komoditas tanaman pangan andalan,
tanaman pangan lainnya yang dihasilkan Sulawesi Barat adalaj Jagung, Ubi kayu,
ubi jaloar dan kacang-kacangan. Produksi Padi Sulawesi Barat tahun 2006 sebesar
301.616 ton yang dipanen dari areal seluas 64.462 ha atau rata-rata 4,68 ton
per hektar.
Sebagian besar produksi padi di Sulawesi Barat dihasilkan oleh
jenis padi sawah.jenis padi ini menyumbang 96,03 persen dari seluruh produksi
padi atau sebesar 289.632 ton. Sedangkan sisanya dihasilkan oleh padi ladang.
Produksi Jagung Sulawesi Barat pada tahun 2006 sebesar 17.351 ton dengan luas
panen 4.985 ha atau menghasilkan rata-rata 3,48 ton/ha. Produksi Ubi Jalar, ubi
kayu.Tanaman Perkebunan, Hasil tanaman perkebunan yang cukup dominan di
SUlawesi Barat pada tahun 2006 adalah tanaman Kelapa Sawit, Kakao dan Kelapa
Dalam yang masing-masing berproduksi sebesar 261.004 ton, 102.976 ton dan
52.289 ton. sebagian besar hasil perkebunan tersebut dihasilkan oleh perkebunan
besar swasta dan dapat dikatakan peran perkebunan rakyat relatif lebih kecil.
Adapun potensi yang dimaksud antara lain :
a. Subsektor Pangan dan Hortikultura :
Lahan
Kering
: 218.363 Ha
Lahan Tanah Tadah Hujan : 40.437 Ha
Lahan Pengairan
: 15.601 Ha
b. Subsektor Peternakan :
Komoditas Andalan antara lain : Sapi, Kerbau,
Kambing, Ayam, Itik dan Babi
Komoditas Unggulan antara lain : Sapi, Kerbau
dan Kambing
c. Subsektor Kelautan dan Perikanan :
|
Panjang
garis pantai
|
: ± 750,72 km
|
|
Luas
kewenangan laut
|
: ± 5.580,35 km2
|
|
Tambak
|
: 29.835 H
|
KOMODITI
SUBSEKTOR PERTANIAN DAN PERKEBUNAN
TIAP KABUPATEN
|
NO.
|
KOTA/KABUPATEN
|
KOMODITI
|
|
1.
|
POLEWALI MANDAR
|
KAKAO, KELAPA
HIBRIDA, KOPI ROBUSTA, KOPI ARABIKA, CENGKEH, JAMBU MENTE, PALA, KEMIRI,
KAPUK, VANILI, SAGU DAN ENAU
|
|
2.
|
MAJENE
|
PADI, JAGUNG, UBI
KAYU KACANG TANAH, KEDELAI, KACANG HIJAU
|
|
3.
|
MAMUJU
|
KELAPA SAWIT, KELAPA
HIBRIDA, KAKAO, KOPI ARABIKA, KOPI ROBUSTA, KEMIRI, VANILI, SAGU, LADA
|
|
4.
|
MAMUJU UTARA
|
JERUK, KELAPA SAWIT,
CENGKEH, KAKAO
|
|
5.
|
MAMASA
|
PADI, JAGUNG, UBI
KAYU, UBI JALAR, KACANG TANAH, KACANG HIJAU, KACANG KEDELAI, KOPI, KAKAO,
SAYUR-SAYURAN, BUAH-BUAH
|
5. Potensi Sumber Daya Alam Subsektor Peternakan
Pembangunan peternakan terdiri dari kegiatan budidaya ternak,
pengembangan ternak, pengolahan pasca panen dan pemasaran. Khusus kegiatan
budidaya ternak secara keseluruhan mempunyai potensi yang cukup besar, misalnya
tersedianya lahan pangan, hijauan makanan ternak yang masih cukup luas, kondisi
iklim yang cukup mendukung dan lain lain. Dengan tingkat penerapan yang relatif
rendah sudah sangat memberikan peluang untuk pengembangannya.
Potensi peternakan seperti ternak sapi, kerbau, kuda, kambing,
babi dan unggas mempunyai keunggulan yang komperatif.Potensi pasar untuk
komoditi peternakan cukup besar, baik untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam
upaya peningkatan gizi masyarakat maupun untuk eksport. Bertambahnya penduduk
dan meningkatnya pendapatan serta kesejahteraan masyarakat akan membuka peluang
pasar terhadap komoditi peternakan yang semakin besar.
Pembangunan peternakan di Provinsi Sulawesi Barat pada dasarnya
merupakan pembangunan berkelanjutan yang tak terpisahkan dari Pembangunan
Pertanian sebagai Program Nasional.Pelaksanaan pembangunan peternakan tersebut
mengacu pada program yang mengarah pada pertumbuhan ekonomi berbasis kerakyatan
yang terus dibangun dan dikembangkan. Adapun tujuan pembangunan peternakan di
Provinsi Sulawesi Barat yang juga merupakan sasaran program rencana strategis
pembangunan peternakan tahun 2005 – 2010 adalah sebagai berikut :
1) Peningkatan pendapatan masyarakat peternak;
2) Tersedianya kesempatan kerja di Sub Sektor Peternakan;
3) Peningkatan pendapatan Domestik Bruto dan Investasi;
4) Peningkatan Populasi;
5) Peningkatan Produksi BAH dan BHAH;
6) Meningkatnya konsumsi masyarakat, dan
7) Terwujudnya keseimbangan pemanfaatan dan kelestarian sumber
daya alam.
Untuk mencapai tujuan pembangunan peternakan tersebut, Dinas
Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulawesi Barat mengacu pada pokok kebijakan
umum pembagunan peternakan dengan fokus program yang rencana akan dilaksanakan
melalui 2 (dua) bidang yaitu :
(1) Pembinaan Pengembangan Agribisnis,
(2) Pembinaan Peningkatan Ketahanan pangan.
Untuk mencapai tujuan pembangunan peternakan tersebut, Dinas
Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulawesi Barat mengacu pada pokok kebijakan
umum pembagunan peternakan dengan fokus program yang rencana akan dilaksanakan
melalui 2 (dua) bidang yaitu :
(1) Pembinaan Pengembangan Agribisnis,
(2) Pembinaan Peningkatan Ketahanan pangan.
KOMODITI SUBSEKTOR
PETERNAKAN
TIAP KABUPATEN
TIAP KABUPATEN
|
NO.
|
KOTA/KABUPATEN
|
KOMODITI
|
|
1.
|
POLEWALI MANDAR
|
SAPI, KERBAU, KUDA,
KAMBING, AYAM, ITIK
|
|
2.
|
MAJENE
|
KAMBING, SAPI, AYAM,
ITIK
|
|
3.
|
MAMUJU
|
SAPI, KERBAU, BABI,
AYAM DAN ITIK, KAMBING DAN DOMBA
|
|
4.
|
MAMUJU UTARA
|
SAPI, KERBAU,
KAMBING, AYAM DAN ITIK
|
|
5.
|
MAMASA
|
AYAM, ITIK, KERBAU,
SAPI, KUDA, KAMBING, BA
|
Bidang fokus program rencana strategis pembangunan peternakan
Provinsi Sulawesi Barat dapat dijabarkan ke dalam 3 (tiga) program utama dengan
aspek operasional masing-masing sebagai berikut :
(1) Program Ketahanan Pangan yang meliputi
Aspek Penanganan Perbibitan, Aspek Keswan dan Kesmavet, Aspek Penyediaan Pakan,
dan Aspek Regulasi;
(2) Program Peningkatan Daya Saing yang
meliputi Aspek Usaha Penggemukan, Usaha Jasa IB, Usaha Jasa Pakan, Usaha Kawin
Alam, dan Usaha-usaha lainnya;
(3) Program Pemberdayaan Masyarakat Kelompok
Tani yang meliputi Pelatihan, Diklat, Magang dan Pendampingan.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Sejarah Terbentuknya Sulawesi Barat Bertolak dari semangat "Allamungan Batu
di Luyo" yang mengikat Mandar dalam perserikatan "Pitu Ba'bana
Binanga dan Pitu Ulunna Salu" dalam sebuah muktamar yang melahirkan
"Sipamandar" (saling memperkuat) untuk bekerja sama dalam membangun
Mandar.
Sulawesi barat merupakan provinsi mekaran dari sulawesi selatan. Sulawesi barat
memiliki 6 kabupaten antara lain: Polewali Mandar, Mamasa, Majene, Mamuju
Utara, Mamuju Kota, dan provinsi yang baru dibentuk yaitu Mamuju Tengah.
Provinsi Sulawesi barat memiliki sektor pertanian dan peternakan yang subur,
dan juga memilliki sumber daya alam yang kaya.
B. KRITIK DAN SARAN
Dalam meningkatkan
pembangunan Kabupaten diperlukan koordinasi dan komunikasi
yang intensif untuk kelancaran pelaksanaan dilapangan, utamanya dalam menggali
informasi dan data
Daftar Pustaka
http://sulbarprov.go.id/utama/profil/16
Komentar
Posting Komentar