PROSES PENGEMBANGAN
KURIKULUM
DI
S
U
S
U
N
OLEH
Kelompok
5 :
INSTITUT
AGAMA ISLAM (IAI) DDI POLEWALI MANDAR
TAHUN
AKADEMIK 2015/2016
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur kita panjatkan kehadirat Allah swt karena atas kelimpahan rahmat dan
karunia-nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Proses
Pengembangan Kurikulum dengan lancar dan baik.
Makalah
ini disusun untuk membantu mengembangkan kemampuan pemahaman pembaca terhadap Proses
Pengembangan kurikulum. Hal tersebut dapat dipahami
melalui pendahuluan, pembahasan masalah, serta penarikan garis kesimpulan dalam
makalah ini.
Ucapan
terima kasih penyusun sampaikan kepada dosen mata pelajaran Pengembangan
Kurikulum dan pemelajaran. Yang telah memberikan kesempatan
kepada kami untuk berkarya menyusun makalah Proses Pengembangan Kurikulum.
Tak lupa kami juga sampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah
memberikan bantuan berupa konsep dan pemikiran dalam penyusunan makalah ini.
Dengan
segala kerendahan hati, saran dan kritik sangat kami harapkan dari para pembaca
guna peningkatan pembuatan makalah pada tugas yang lain dan pada waktu yang
akan datang.
DAFTAR
ISI
HALAMAN JUDUL..………………………………………….......... i
KATA
PENGANTAR…..……………………………........................ ii
DAFTAR
ISI...………………………………………......................... iii
BAB
1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang…………………………………………………. 1
B. Rumusan Masalah………............................................................. 2
C. Tujuan Penulisan........................................................................... 2
BAB
II
PEMBAHASAN
1.
Definisi Proses Pengembangan
Kurikulum................................. ... 3
2. Kerangka Pengembangan
Kurikulum……………………………. 5
3.
Langkah-langkah Pengembangan Kurikulum................................ 7
4. Sumber daya
manusia (SDM) Pengambangan Kurikulum............. 12
5. Kurikulum
Ideal dan Aktual............................................................ 13
BAB
III
PENUTUP
KESIMPULAN……………………………………………………. 15
KRITIK DAN
SARAN..................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………… 16
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Pengembangan kurikulum adalah istilah yang komprehensif, di
dalamnya mencakup perencanaan, penerapan, dan evaluasi. Perencanaan kurikulum
adalah langkah awal membangun kurikulum ketika pekerja kurikulum membuat
keputusan dan mengambil tindakan untuk menghasilkan perencanaan yang akan
digunakan oleh guru dan peserta didik. Penerapan Kurikulum atau biasa disebut
juga implementasi kurikulum berusaha mentransfer perencanaan kurikulum ke dalam
tindakan operasional.Evaluasi kurikulum merupakan tahap akhir dari pengembangan
kurikulum untuk menentukan seberapa besar hasil-hasil pembelajaran, tingkat
ketercapaian program-program yang telah direncanakan, dan hasil-hasil kurikulum
itu sendiri.
Pada prinsipnya pengembangan kurikulum berkisar pada pengembangan
aspek ilmu pengetahuan dan teknologi yang perlu diimbangi perkembangan
pendidikan. Manusia, disisi lain sering kali memiliki keterbatasan kemampuan
untuk menerima, menyampaikan dan mengolah informasi, karenanya diperlukan
proses pengembangan kurikulum yang akurat dan terseleksi dan memiliki tingkat
relevansi yang kuat. Dalam hal ini merealisasikannya maka diperlukan suatu
model pengembangan kurikulum dengan pendekatan yang sesuai.
“Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin berubah, kecuali perubahan
itu sendiri”.Itulah bunyi dari salah satu teori sosial yang hingga kini masih
kita yakini kebenarannya.Tidak ada yang pasti bahkan stagnan dalam
tata kehidupan sosial. Dalam konteks apapun, masyarakat akan selalu memiliki
kecenderungan untuk terus dinamis dalam kehidupannya.
Demikian pula ketika kita berbicara tentang kurikulum.Dari
perspektif sosiologis, kurikulum merupakan produk sosial. Artinya, segala
perubahan baik dari segi format, isi, maupun asas desain dan pelaksanaannya
akan selalu berubah mengikuti perkembangan zaman yang terjadi (kurikulum
sebagai objek). Pada paradigma sebaliknya, kurikulum dapat pula berfungsi
sebagai subjek zaman, dimana kurikulum itu sendiri merupakan salah satu
instrumen (alat formal) dari perubahan sosial yang diharapkan.
Meskipun perubahan kurikulum selalu berorientasi pada upaya
perbaikan dan pengembangan secara progresif, namun demikian setiap perubahan
yang terjadi dalam masyarakat senantiasa memunculkan resiko kehidupan sosial
atau ketidakpastian sosial berikutnya. Hal ini terjadi dalam konteks
pengembangan kurikulum, pro dan kontra atas pelaksanaan kurikulum yang akan
atau baru ditetapkan pasti selalu terjadi.
Melihat latar belakang yang menarik ini tentunya selain dari
perspektif sosiologis tersebut, banyak hal yang menjadi penyebab mengapa
kurikulum dalam suatu negara atau konteks masyarakat tertentu dapat berubah
atau berkembang dan dapat dimaklumi sebagai polemik di masyarakat.
2. Rumusan Masalah
- Apa definisi proses pengembangan kurikulum?
- Bagaimana kerangka pengembangkan kurikulum
- Bagaimana langkah-langkah pengembangan kurikulum?
- Bagaimana SDM dalam pengembangan kurikulum?
- Apa kurikulum real dan kurikulum aktual?
3. Tujuan Penulisan
1. Untuk menjelaskan proses pengembangan kurikulum
2. Untuk mendeskrifsikan kerangka penegmbangan
kurikulum
3. Untuk menjelaskan langkah-langkah penegmbangan
kurikulum
4. Mendeskrifsikan kurikulum real dan actual
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Definisi
Proses Pengembangan Kurikulum
Pada dasarnya pengembangan kurikulum adalah mengarahkan kurikulum
sekarang ke tujuan pendidikan yang diharapkan.karena adanya berbagai pengaruh
yang sifatnya positif yang datangnya dari luar atau dari dalam sendiri dengan
harapan agar peserta didik dapat menghadapi masa depannya dengan baik.
Definisi lain menjelaskan bahwa pengembangan kurikulum adalah
proses perencanaan kurikulum agar menghasilkan rencana kurikulum yang luas dan
spesifik. Proses ini berhubungan dengan seleksi dan pengorganisasian berbagai
komponen situasi belajar mengajar antara lain penetapan jadwal pengorganisasian
kurikulum dan spesifikasi tujuan yang disarankan, mata pelajaran, kegiatan,
sumber, dan alat pengukur pengembanagn kurikulum yang mengacu pada kreasi
sumber unit, rencana unit, dan garis pelajaran kurikulum lainnya untuk
memudahkan proses belajar mengajar.[1]
Seller dan Miller (1985) mengemukakan bahwa proses pengembangan
kurikulum adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan secara terus menerus, yang
meliputi Orientasi, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Seller memandang
bahwa pengembangan kurikulum harus dimulai dari menentukan orientasi, yakni
kebijakan-kebijakan umum meliputi enam aspek : tujuan pendidikan, pandangan
tentang anak, pandangan tentang proses pembelajaran, pandangan tentang
lingkungan , konsepsi tentang peranan guru, dan evaluasi. Berdasarkan orientasi
selanjutnya dikembangkan kurikulum menjadi pedoman pembelajaran, diimplementasikan
dalam bentuk proses pembelajaran dan dievaluasi. Hasil evaluasi tersebut
kemudian dijadikan bahan dalam menentukan orientasi, begitu seterusnya, hingga
membentuk siklus.
Dari pendapat Seller tersebut, pengembangan kurikulum pada
hakekatnya adalah pengembangan komponen-komponen yang membentuk sistem
kurikulum itu sendiri serta pengembangan komponen pembelajaran. Dengan demikian
maka pengembangan kurikulum memiliki dua sisi yang sama penting. Satu sisi
sebagai pedoman yng kemudian membentuk kurikulum tertulis (written curriculum
atau document curriculum) dan sisi kurikulum sebagai implementasi (curriculum
implementation) yaitu sistem pembelajaran.
Proses pengembangan memiliki pengertian berbeda dengan perubahan
dan pembinaan kurikulum. Perubahan kurikulum merupakan kegiatan atau proses
yang disengaja manakala berdasarkan hasil evaluasi ada salah satu atau beberapa
komponen yang harus diperbaiki atau diubah, sedangkan pembinaan adalah proses
untuk mempertahankan dan menyempurnakan kurikulum yang sedang dilaksanakan.
Dengan demikian pengembangan menunjuk pada proses merancang sedangkan pembinaan
adalah implementasi dari hasil pengembangan.
Dari uraian tersebut disimpulkan bahwa pengembangan dan pembinaan
kurikulum merupakan dua kegiatan yang tidak dapat dipisahkan, pengembangan dan
implementasi merupakan dua sisi yang harus berjalan seiring sejalan. Makna
kurikulum akan dapat dirasakan manakala diimplementasikan, implementasi akan
semakin terarah manakala sesuai dengan kurikulum rencana, dan selanjutnya hasil
implementasi tersebut selanjutnya akan memberikan masukan untuk penyempurnaan
rancangan. Inilah hakekat pengembangan kurikulum yang selalu berputar,
berjalan, dan membentuk suatu siklus.
Pengembangan kurikulum pada hakikatnya merupakan pengembangan
komponen – komponen kurikulum yang membentuk system kurikulum itu sendiri,yaitu
komponen: tujuan, bahan, metode, peserta didik, pendidik, media, lingkungan,
sumber belajar dan lain-lain. Komponen – komponen kurikulum tersebut harus
dikembangkan agar tujuan pendidikan dapat dicapai sebagaimana mestinya.
Pada saat kini proses pengembangan kurikulum di Indonesia
mengikuti kebijakan yang diundangkan dalam UU nomor 20 tahun 2003, PP nomor 19
tahun 2005 dan permen nomor 22, 23 dan 24 tahun 2006. Berdasarkan ketetapan tersebut
maka proses pengembangan kurikulum di Indonesia mengikuti dua langkah besar
yaitu proses pengembangan yang dilakukan di Pemerintah Pusat dan pengembangan
yang dilakukan disetiap satuan pendidikan.
Pengembangan yang paling menjadi focus perhatian adalah
pengembangan tingkat sekolah. Pada tingkat ini sekolah tetap harus
memperhatikan kebutuhan dan tantangan masyarakat yang dilayaninya,
menerjemahkan tantangan tersebut dalam kemampuan yang harus dimilki peserta
didik. Pengembangan pada tingkat ini menghasilkan apa yang disebut dengan
kurikulum Sekolah atau kurikulum Tingkat satuan Pendidikan ( KTSP ).
1. Pengembangan Kurikululum Sekolah
Proses pengembangan kurikulum Sekolah dikembangkan berdasarkan
landasan dan prosedur yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. Landasan
Legal nya adalah UU nomor 20 tahun 2003, setelah UU nomor 20
tahun 2003 berlaku, wewenang mengembangkan, mengelola dan melaksanakan
pendidikan tidak lagi sepenuhnya menajadi tanggung jawab Pemerintah Pusat
tetapi sudah berbagi dengan pemerintah daerah. System pendidikan yang dibangun
oleh UU nomor 20 tahun 2003 merupakan konsekuensi dari perubahan system
pemerintahan sentralistis ke otonomi daerah dimana pendidikan adalah aspek
pelayanan pemerintahan pusat yang didelegasikan ke pemerintah daerah.
2. Sedangkan landasan Filosofis dan teoritisnya bagi pengembangan kurikulum sekolah
adalah :
- Kurikulum harus dimulai dari lingkungan terdekat.
- Kurikulum harus mampu melayani pencapaian tujuan
pendidikan nasional dan tujuan satuan pendidikan. Kurikulum sekolah harus
mampu mengorganisasikan kepentingan peserta didik, masyarakat terdekat dan
bangsa dalam satu dimensi.
- Model kurikulum harus sesuai dengan ide kurikulum.
- Proses pengengembangan kurikulum harus bersifat
fleksibel dan komprehensif. Kurikulum sekolah harus bersifat terbuka untuk
penyempurnaan.
Berikut ini adalah
beberapa karakteristik dalam pengembangan kurikulum:
1. Rencana kurikulum harus dikembangkan dengan
tujuan (goals dan general objectifes) yang jelas.
- Suatu progam atau kegiatan yang dilaksanakan di sekolah
merupakan bagian dari kurikulum yang dirancang selaras dengan prosedur
pengembangan kurikulum.
- Rencana kurikulum yang baik dapat menghasilkan
terjadinya proses belajar yang baik karena berdasarkan kebutuhan dan minat
siswa.
- Rencana kurikulum harus mengenalkan dan mendorong
diversitas diantara para pelajar.
- Rencana kurikulum harus menyiapkan semua aspek situasi
belajar mengajar, seperti tujuan konten, aktifitas, sumber, alat
pengukuran, penjadwalan, dan fasilitas yang menunjang.
- Rencana kurikulum harus dikembangkan dengan
karakteristik siswa pengguna.
- The subject Arm Approach adalah pendekatan kurikulum
yang banyak di gunakan di sekolah.
- Rencana kurikulum harus memberikan fleksibilitas untuk
memungkinkan terjadinya perencanaan guru – siswa .
- Rencana kurikulum harus memberikan fleksibilitas yang
memungkinkan masuknya ide-ide spontan selama terjadinya interaksi antara
guru dan siswa dalam situasi belajar yang khusus.
- Rencana kurikulum sebaiknya merefleksikan keseimbangan
antara kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Beauchamp mengemukakan
lima prinsip dalam pengembangan teori kurikulum yaitu, ( Ibrahim, 2006 ) :
- Setiap teori kurikulum harus dimulai dengn perumusan
tentang rangkaian kejadian yang dicakupnya.
- Setiap teori kurikulum harus mempunyai kejelasan
tentang nilai – nilai dan sumber-sumber yang menjadi titik tolaknya.
- Setiap teori kurikulum perlu menjelaskan karakteristik
desain kurikulumnya.
- Setiap teori kurikulum harus menggambarkan
proses-proses penentuan kurikulum serta interaksi diantara proses
tersebut.
- Setiap teori kurikulum hendaknya mempersiapkan ruang
untuk dilakukannya proses penyempurnaan.
Pada akhirnya, berbagai
factor di atas mempunyai factor yang signifikan terhadap pembuatan keputusan
kurikulum.
2.
Kerangka
Pengembangan Kurikulum
Pengembangan kurikulum
harus mengacu pada sebuah kerangka umum, yang berisikan hal – hal yang
diperlukan dalam pembuatan keputusan.
- Asumsi
Asumsi yang digunakan dalam pengembangan kurikulum ini menekankan
pada keharusan pengembangan kurikulum yang telah terkonsep dan
diinterpretasikan dengan cermat, sehingga upaya-upaya yang terbatas dalam
reformasi pendidikan, kurikulum yang tidak berimbang, dan inovasi jangka pendek
dapat di hindarkan.
Dalam konteks ini, kurikulum didefisinisikan sebagai suatu rencana
untuk mencapai hasil- hasil yang diharapkan, atau dengan kata lain suatu
rencana mengenai tujuan, hal yang dipelajari, dan hasil pembelajaran. Dengan
demikian, kurikulum teridiri atas beberapa komponen, yaitu hasil belajar dan
struktur (sekuens berbagai kegiatan belajar ).
- Tujuan pengembangan kurikulum
Istilah yang digunakan untuk menyatakan tujuan pengembangan
kurikulum adalah goals dan objectives.Tujuan sebagai goals dinyatakan dalam
rumusan yang lebih abstrak dan bersifat umum, dan pencapaianya relative dalam
jangka panjang.Adapun tujuan sebagai objectives lebih bersifat khusus,
operasional, dan pencapaianya dalam jangka pendek.
Aspek tujuan, baik yang dinyatakan dalam goals maupun objectives
memainkan peran yang sangat penting dalam pengembangan kurikulum. Tujuan
berfungsi untuk menentukan arah seluruh upaya kependidikan sekolah
sekaligus menstimulasi kualitas yang diharapkan. Tujuan pendidikan
pada umumnya berdasarkan pada filsafat yang dianut atau yang mendasari pendidikan
tersebut.
- Penilaian kebutuhan
Kebutuhan merupakan hal yang pokok dalam perencanaan (
Unruh dan Unruh, 1984 ). Dalam kaitanya dengan pengembangan kurikulum dan
pembelajaran, kebutuhan didefinisikan sebagai perbedaan antara keadaan actual
dan keadaan ideal yang dicita-citakan. Penilaian kebutuhan adalah prosedur,
baik secara terstruktur maupun informal, untuk mengidentifikasi kesenjangan
antara situasi “ di sini dan sekarang “ dengan tujuan yang di harapkan.
- Konten kurikulum
Berkaitan dengan konten kurikulum ini, Unruh (1984) hanya membahas
enam bidang konten kurikulum akademik untuk jenjang pendidikan dasar, yaitu
Bahasa Indonesia, Matematika, Sains (IPA), Studi Sosial (IPS), Bahasa Asing dan
Seni. Meskipun demikian, hendaknya kurikulum juga memberikan ruang bagi pelajaran
lain selain keenam bidang konten tersebut antara lain pendidikan jasmani dan
kesehatan, pendidikan agama dan berbagai pelajaran keterampilan lain yang
dibutuhkan siswa.
- Sumber materi kurikulum
Materi kurikulum dapat diperoleh dari buku-buku teks, buku
petunjuk bagi guru, pusat pendidikan guru, kantor konsultan kurikulum,
departemen pendidikan dan agen pelayanan pendidikan lainnya.
- Implementasi kurikulum
Sebuah kurikulum yang telah dikembangkan tidak akan berarti jika
tidak diimplementasikan, dalam arti digunakan di sekolah dan di kelas.
Keberhasilan implementasi terutama ditentukan oleh aspek perencanaan dan
strategi implementasinya.Pada prinsipnya, implementasi ini mengintegrasikan
aspek-aspek filosofis, tujuan, subject matter, strategi mengajar dan kegiatan
belajar, serta evaluasi dan feedback.
- Evaluasi kurikulum
Evaluasi adalah suatu proses interaksi, deskripsi dan pertimbangan
(judgment) untuk menemukan hakikat dan nilai dari suatu hal yang dievaluasi,
dalam hal ini yaitu kurikulum. Evaluasi kurikulum sebenarnya dimaksudkan untuk
memperbaiki substansi kurikulum, prosedur implementasi, metode instruksional,
serta pengaruhnya pada belajar dan perilaku siswa.
- Keadaan di masa mendatang
Pesatnya perubahan dalam kehidupan social, ekonomi, teknologi,
politik serta berbagai peristiwa lainnya memaksa kita semua berfikir dan
merespon setiap perubahan yang terjadi.Dalam pemngembangan kurikulum, pandangan
dan kecenderungan pada kehidupan masa datang sudah menjadi hal yang urgen.
Setiap rencana pengembangan kurikulum harus memasukkan pertimbangan kehidupan
di masa depan, serta implikasinya pada perencanaan kurikulum.
3.
Langkah-Langkah
Pengembangan Kurikulum
Penyusunan dan
pengembangan kurikulum dapat menempuh langkah-langkah:
1. Perumusan tujuan
Tujuan di rumuskan berdasarkan analisis terhadap
berbagai kebutuhan, tuntutan dan harapan.Oleh karena itu tujuan di rumuskan
dengan mempertimbangkan faktor-faktor masyarakat, siswa itu sendiri serta ilmu
pengetahuan.
2. Menentukan isi
Isi kurikulum merupakan pengalaman belajar yang
di rencanakan akan di peroleh siswa selama mengikuti pendidikan. Pengalaman
belajar ini dapat berupa mempelajari mata pelajaran-mata pelajaran, atau
jenis-jenis pengalaman belajar lain sesuai dengan bentuk kurikulum itu sendiri.
3. Memilih kegiatan
Organisasi dapat di rumuskan sesuai dengan
tujaun dan pengalaman-pengalaman belajar yang menjadi isi kurikulum,
dengan mempertimbangkan bentuk kurikulum yang digunakan.
4. Merumuskan evaluasi
Evaluasi kurikulum mengacu pada tujuan
kurikulum, sebagai di jelaskan di muka.Evaluasi perlu di lakukan untuk
memperoleh balikan sebagai dasar dalam melakukan perbaikan, oleh karena itu
evaluasi dapat di lakukan secara terus menerus.[2]
Ada empat langkah
pengembangan kurikulum model Rogers.
- pemilihan target dari system pendidikan. Didalam
penentuan target ini stu-satunya criteria yang menjadi pagangan adalah
adanya kesediaan dari pejabat pendidikan untuk turut serta dalam kegiatan
kel;ompok yang intensif.
- partisipasi guru dalam pengalaman guru dalam pengalaman
kelompok yang intensif.
- pengembangan pengalaman kelompok yang intensif untuk
satu kelas atau unit pelajaran.
- partisipasi orang tua dalam kegiatan kelompok.[3]
Menurut Olivia pengembangan
kurikulum terdiri atas 10 langkah :
- Perumusan filosofis, sasaran, misi serta visi lembaga
pendidikan, yang kesemuanya bersumber dari analisis kebutuhan siswa, dan
kebutuhan masyarakat.
- Analisis kebutuhan masyarkat di mana sekolah itu
berada, kebutuhan siswa dan urgensi dari disiplin ilmu yang harus
diberikan oleh sekolah.
- Tujuan umum dan khusus bagaimana mengorganisasikan
rancangan dan mengimplementasikan kurikulum.
- Bagaimana menjabarkan atau perbedaan antara tujuan umum
dan tujuan khusus pembelajaran.
- Menetapkan strategi pembelejaran untuk mencapai tujuan.
- Pengembangan kurikulum.
- Mengimplementasikan strategi pembelajaran.
- Pengembangan kurikulum kembali.
- Menyempurnakan alat atau teknik penilaian.
- Evaluasi terhadap pembelajaran dan evalusi kurikulum.[4]
Langkah – langkah pengembangan kurikulum
menurut Tyler :
- Menentukan tujuan
Dalam penyusunan suatu kurikulum, merumuskan
tujuan merupakan langkah pertama dan utama , sebab tujuan merupakan arah atau
sasaran pendidikan.
- Menentukan
pengalaman belajar
Menentukan pengalaman belajar (learning
experiences) adalah aktivitas siswa dalam berinteraksi dengan lingkungan.
Pengalaman belajar pada aktivitas siswa dalam proses pembelajaran. Ada beberapa
prinsip dalam menentukan pengalaman belajar siswa, yaitu :
- Pengalaman siswa harus sesuai dengan tujuan yang ingin
di capai.
- Setiap pengalaman belajar harus memuaskan siswa.
- Setiap rancangan pengalaman siswa belajar sebaiknya
melibatkan siswa.
- Dalam suatu pengalaman belaajr dapat mencapai tujuan
yang berbeda
- Pengorganisasian pengalaman belajar
Ada dua jenis
pengorganisasian pengalaman belajar, yaitu :
- Pengorganisasian secara vertikal
Pengorganisasian secara vertikal adalah
menghubungkan pengalaman belajar dalam satu kajian yang sama dalam tingkat yang
berbeda.
Contoh : Pengorganisasian pengalaman belajar
yang menghubungkan antara bidang geografi di kelas lima dan geografi di kelas
enam.
- Pengorganisasian secara horisontal
Pengorganisasian secara horisontal adalah
menghubungkan pengalaman belajar dalam bidang geografi dan sejarah dalam
tingkat yang sama.
- Penilaian tujuan belajar sebagai kompponen yang
dijadikan perhatian utama.
Menurut Beauchamp,
ada lima langkah atau pentahapan dalam mengembangkan suatu kurikulum
(Beauchamp’s System):
- Menetapkan arena atau lingkup
wilayah yang akan dicakup oleh kurikulum tersebut (sekolah, kecamatan,
kabupaten, propinsi, negara). Pentahapan arena ini ditentukan oleh
wewenang yang dimiliki oleh pengambil kebijakan dalam pengembangan
kurikulum,serta oleh tujuan pengembangan kurikulum.
- Menetapkan personalia, yaitu
siapa-siapa yang turut serta terlibat dalam pengembangan kurikulum.
- Organisasi dan prosedur pengembangan
kurikulum. Langkah ini berkenaan dengan prosedur yang harus ditempuh dalam
merumuskan tujuan umum dan tujuan yang lebih khusus, memilih isi dan
pengalaman belajar, serta kegiatan evaluasi, dan dalam menentukan
keseluruhan desain kurikulum. Beauchamp membagi keseluruhan kegiatan ini
dalam lima langkah, yaitu:
membentuk tim pengembang kurikulum.
a. mengadakan penilaian atau penelitian terhadap
kurikulum yang ada yang sedang digunakan studi penjajahan tentang kemungkinan
penyusunan kurikulum baru.
b. merumuskan kriteria-kriteria bagi penentuan
kurikulum baru.
c. penyusunan dan penulisan kurikulum baru.
- Implementasi kurikulum.
Langkah ini merupakan langkah
mengimplementasikan atau melaksanakan kurikulum yang bukan sesuatu yang
sederhana, sebab membutuhkan kesiapan yang menyeluruh,baik kesiapan guru-guru,
siswa, fasilitas, bahan maupun biaya, di samping kesiapan manajerial dari
pimpinan sekolah atau administrator setempat.
- Evaluasi kurikulum.
Langkah ini mencakup empat hal, yaitu:
a) Evaluasi tentang pelaksanaan kurikulum oleh
guru-guru
b) Evaluasi desain kurikulum
c) Evaluasi hasil belajar siswa
d) Evaluasi dari keseluruhan sistem kurikulum.
Menurut Wheeler berpendapat
bahwa pengembangan kurikulum teridri dari 5 tahap yaitu:
1. Mementukan tujuan umum dan tujuan khusus.
Dalam hal ini tujuan umum dapat berupa tujuan yang bersifat
normative yang mengandung tujuan filisofis (aim) atau tujuan pembelajaran yang
bersifat praktis (goals). Sedangkan yang menjadi tujuan khusus yaitu tujuan
yang bersifat spesifik dan observable (objective) yaitu suatu tujuan
pembelajaran yang mudah diukur ketercapaiannya. Dalam pengembangan
kurikulum menurut Wheeler penentuan tujuan merupakan tahap awal yang harus
dilakukan.Dalam penyusunan suatu kurikulumin, merumuskan tujuan merupakan hal
yang harus dikerjakan karena tujuan merupakan arah atau sasaran pendidikan.
Tanpa ada tujuan maka apa yang ingin di capai akan menjadi tidak.
Alasan alasan yang
mendasar mengenai pentingnya perumusan suatu tujuan adalah:
- Tujuan berkaitan erat
dengan arah dan sasaran yang harus dicapai oleh dunia
pendidikan. Kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan
pendidikan, denagn demikian salah satu komponen penting yang harus ada
dalam suatu perencanaan kurikulum adalah tujuan itu sendiri.
- Tujuan kurikulum dapat membantu
pengembang kurikulum dalam mendesain suatu model kurikulum. Melalui tujuan
yang jelas, maka dapat membantu para pengembang kurikulum dalam mendesain
model kurikulum yang dapat digunakan bahkan akan membantu guru dalam
mendesain sistem pembelajaran. Maksudnya disini adalah dengan tujuan yang
jelas dapat memberikan arahan kepada guru dalam menentukan bahan atau
materi yang harus dipelajari, menentukan metode dan strategi pembelajaran
yang akan digunakan, menentukan alat, media, dan sumber pembelajaran,
serta bagaimana cara merancang alat evaluasi untuk menentukan keberhasilan
belajar siswa.
- Tujuan dapat digunakan sebagai
control dalam menentukan batas batas serta kualitas pembelajaran. Dengan
adanya tujuan kurikulum yang jelas dapat digunakan sebagai kontrol dalam
menentukan batas-batas dan kualitas pembelajaran. Artinya, melalui
penetapan tujuan, para pengembang kurikulum termasuk guru dapat mengontrol
sampai mana siswa telah memperoleh kemampuan-kemampuan sesuai dengan
tujuan dan tuntutan kurikulum yang berlaku. Lebih jauh dari itu dengan
adanya tujuan akan dapat ditentukan daya serap siswa dan kualitas suatu
sekolah.
2. Menentukan pengalaman
belajar yang mungkin dapat dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan yang
telah dirumuskan dalam dalam langkah pertama. Yang dimaksud dengan pengalaman
belajar disini adalah segala aktivitas siswa dalam berinteraksi denagn
lingkungan. Menentukan pengalaman belajar merupakan hal yang penting untuk
materi - materi yang sesuai dalam proses pembelajaran.
3. Menentukan isi dan materi pelajaran sesuai dengan pengalaman
belajar
Tahap ketiga dalam pengembangan kurikulum menurut Wheeler adalah
penentuan isi dan materi pelajaran. Penentuan isi dan materi pelajaran ini di
dasarkan atas pengalaman belajar yang di alami oleh peserta didik, pengalaman
belajar yang dialami oleh peserta didik dijadikan suatu acuan dalam penyusunan
materi ajar.langkah langkah pengorganisasian merupakan hal yang sangat penting
karena dengan pengorganisasian yang jelas akan memberikan arah bagi pelaksanaan
proses pembelajaran sehingga menjadi pengalaman belajar bagi pelaksanaan proses
pembelajaran sehingga menjadi pengalaman belajar yang nyata bagi siswa.
4. Mengorganisasi atau menyatukan pengalaman
belajar dengan isi atau materi pelajaran.
Setelah materi ajar disusun maka dilakukan penyatuan antara
pengalaman belajar dengan materi ajar yang telah disusun, hal ini bertujuan
agar terjadi hubungan atau kesinambungan antara pengalaman belajar dengan
materi ajar. Sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dengan naik
sehingga hasil yang diperoleh pun dapat maksimal.
5.
Melakukan evaluasi
setiap fase pengembangan dan pencapaian tujuan.
Disini setelah proses pembelajaran selesai akan dilaksanakan suatu
proses evaluasi. Dalam proses pengembangan kurikulum ini tahap evaluasi
merupakan tahap yang sangat penting, hal itu karena proses penilaian atau
evaluasi dapat memberikan informasi tentang ketercapaian daripada tujuan yang
telah ditetapkan sebelumnya.
Dengan evaluasi ini maka akan dapat diketahui apakah kurikulum
yang diterapkan itu berjalan denagn baik sesuai dengan tujuan yang ingin
dicapai oleh sekolah tersebut.secara rinci dapat dikatakan bahwa Evaluasi
bertujuan untuk menggumpulkan, menganalisis dan menyajikan data untuk bahan
penentuan keputusan mengenai kurikulum apakan kurikulum itu masih bisa berlaku
atau harus di perbaharui atau digamti lagihal itu terjadi karena evaluasi
suatu kurikulum dapat memberikan informasi mengenai kesesuaian,
efektifitas dan efisiensi kurikulum terhadap tujuan yang ingin dicapai
dan penggunaan sumber daya,yang mana informasi ini akan sangat berguna sebagai
bahan pembuat keputusan apakah kurikulum tersebut masih dijalankan tetapi
perlu revisi atau kurikulum tersebut harus diganti dengan kurikulum yang baru.
Evaluasi kurikulum juga penting dilakukan dalam rangka penyesuaian dengan
perkembangan ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi dan kebutuhan pasar yang
berubah.
Berdasarkan dari langkah- langkah pengembangan kurikulum yang dikemukakan
oleh Wheeler terlihat bahwa pengembangn kurikulum itu berbentuk sebuah siklus
(lingkaran) yang mana pada setiap tahapa dalam siklus tersebut membentuk suatu
system yang terdiri dari komponen- komponen pengembangan yang saling
berhubungan satu sama lain. [5]
4.
Sumber
Daya Manusia (SDM) Pengembangan Kurikulum
Sumber Daya Manusia (SDM) pengembangan kurikulum adalah kemampuan
terpadu dari daya pikir dan daya fisik yang dimiliki oleh setiap pengembang
kurikulum dari tingkat pusat sampai tingkat daerah.Sumber daya manusia tersebut
terdiri atas berbagai pakar ilmu pendidikan, administrator pendidikan, guru,
ilmuwan, orang tua, siswa, dan tokoh masyarakat.
Unsur ketenagaan tersebut dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu
tenaga professional dan tenaga dari masyarakat.Tenaga professional meliputi
tenaga kependidikan guru, tenaga kependidikan non-guru dan organisasi
professional.Adapun tenaga dari masyarakat meliputi tokoh masyarakat, orang
tua, komite sekolah atau dewan sekolah, pihak industry dan bisnis, lembaga
social masyarakat, instansi pemerintah atau departemen dan non-departemen,
serta unsur-unsur masyarakat yang berkepentingan terhadap pendidikan.
Dalam proses pengembangan kurikulum, keterlibatan unsur-unsur
ketenagaan tersebut sangat penting, karena keberhasilan suatu system dan tujuan
pendidikan merupakan tanggung jawab bersama pada semua tahapan kurikulum.
Berikut ini adalah deskripsi tugas dan wewenang pihak-pihak yang terkait dalam
pengembangan kurikulum.
- Pakar-pakar ilmu pendidikan
Spesialis para pengembang kurikulum bertugas
untuk:
- Duduk sebagai anggota panitia atau sponsor.
- Mengajukan gagasan dan berbagai masukan yang diperlukan
oleh panitia pengembang kurikulum.
- Melakukan penelitian dalam bidang pengembangan
kurikulum.
- Menyusun buku sumber yang dibutuhkan sesuai dengan
kurikulum yang dikembangkan.
- Memberikan pelatihan dan konsultasi bagi para
pengembang kurikulum.
- Administrator pendidikan
Administrator pendidikan
merupakan sumber daya manusia yang berada pada tingkat pusat, propinsi, kota
atau kabupaten dan juga kepala sekolah.
- Administrator di tingkat pusat
memiliki wewenang dan kepemimpinan untuk mengarahkan orang serta
bertanggungjawab atas pekerjaan orang tersebut dalam mencapai tujuan yaitu
dalam penyusunan kerangka kurikulum, dasar hokum dan program inti yang
selanjutnya dapat ditetapkan jenis dan jumlah mata pelajaran minimal yang
diperlukan. Administrator di tingkat pusat bekerja sama dengan para pakar
dari perguruan tinggi untuk merumuskan isi dan materi kurikulum sesuai
dengan bidang keilmuannya masing-masing.
- Administrator di tingkat daerah
bertugas berdasarkan kerangka dasar dan program inti dari tingkat pusat.
Mereka kemudian melakukan pengembangan sesuai dengan kebutuhannya.
Administrator tingkat daerah memiliki wewenang merumuskan system
operasional pendidikan bagi sekolahnya. Mereka berkewajiban mendorong dan
mengimplementasikan kurikulum pada setiap sekolah. Selanjutnya bekerja
sama dengan kepala sekolah dan guru-guru dalam pengembangan kurikulum di
sekolah sesuai dengan kebutuhan masyarakat, melakukan sosialisasi dan
melaksanakan kurikulum di sekolah tersebut.
Kepala sekolah dan guru memegang peranan yang sangat besar dan
merupakan kunci keberhasilan pengembangan kurikulum karena mereka berkaitan
langsung dengan implementasi kurikulum.
Guru merupakan titik sentral dalam pengembangan kurikulum karena
guru sebagai ujung tombak pelaksanaan di lapangan. Pengembangan kurikulum
bertolak dari kelas.Oleh karena itu, guru hendaknya memiliki gagasan kreatif
dan melakukan uji coba kurikulum di kelasnya sebagai fase penting dan sebagai
unsur penunjang administrasi secara keseluruhan.
Orang tua Sebagai stakeholder dalam penyusunan
kurikulum, hanya beberapa saja dari orang tua yang dilibatkan yaitu mereka yang
memiliki latar belakang memadai.Mengingat sebagian kegiatan belajar yang
dituntut kurikulum dilaksanakan di rumah, maka sangat diperlukan adanya
kerjasama yang erat antara guru atau sekolah dengan orang tua siswa.
Siswa sebagai obyek dari penerapan kurikulum hendaknya selalu
diberi motivasi dalam belajar dan dibimbing dalam berpartisipasi melalui
kegiatan ekstra di sekolah untuk meningkatkan kualitas siswa.
5.
Kurikulum
ideal dan aktual
Ideal curriculum atau kurikulum ideal adalah kurikulum yang berisi
sesuatu yang baik, yang diharapkan atau dicita-citakan sebagaimana dimuat dalam
buku kurikulum. Real Curriculum, Actual Curriculum atau kurikulum aktual adalah
apa yang terlaksana dalam proses belajar mengajar atau yang menjadi kenyataan
dalam kurikulum yang direncanakan atau terprogram dalam pendidikan. Kurikulum
Aktual sebaiknya sama dengan kurikulum ideal, atau setidak-tidaknya mendekati
kurikulum ideal walaupun tidak mungkin atau tidak pernah sama dalam
kenyataannya.
Kurikulum ideal yakni kurikulum yang berisi sesuatu yang ideal dan
yang dicita-citakan.kurikulum ini diharapkan dapat dilaksanakan dan berfungsi
sebagai acuan atau pedoman guru dalam proses belajar dan mengajar.oleh karena
itu kurikulum ideal merupakan pedoman bagi guru, maka kurikulum ini juga
dinamakan kurikulum formal atau kurikulum tertulis (written curriculum). contoh
dari kurikulum ini adalah kurikulum sebagai suatu dokumen seperti kurikulum SMU
1989,kurikulum SD 1975 yang berlaku pada tahun itu dan lain sebagainya.
Kurikulum aktual yakni kurikulum yang dilaksanakan dalam proses
pengajaran dan pembelajaran. Kenyataan pada umumnya memang jauh berbeda dengan
harapan, namun seharusnya mendekati dengan kurikulum ideal.Kurikulum dan
pengajaran merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan. Kurikulum merujuk
kepada bahan ajar yang telah direncanakan yang akan dilaksanakan dalam jangka
panjang. Sedang pengajaran merujuk kepada pelaksanaan kurikulum tersebut secara
bertahap dalam belajar mengajar. Selain itu kurikulum aktual juga dapat
diartikan sebagai kurikulum yang secara real dapat dilaksanakan oleh guru
sesuai dengan keadaan dan kondisi yang ada..kondisi-kondisi yang dapat
mempengaruhi pelaksanaan kurikulum aktual diantaranya adalah sarana yang
tersedia disekolah, kemampuan sumberdaya manusia khususnya guru dan
kebijakan-kebijakan sekolah.[6]
Para ahli kurikulum menganggap perlu adanya sejumlah kriteria yang
digunakan sebagai pedoman, patokan, dan ukuran dua macam kurikulum tersebut.
Caswell dan Campbell telah merumuskan beberapa kriteria sebagai berikut:
- Kegunaan isi kurikulum dalam menafsirkan, memahami dan
menilai kehidupan yang kontemporer.
- Kegunaan isi kurikulum dalam memuaskan minat dan
kebutuhan para siswa.
- Nilai isi kurikulum dalam mengembangkan kemampuan,
sikap dan sebagainya yang dipandang bermanfaat bagi orang dewasa.
- Isi kurikulum hendaknya signifikan bagi bidang mata
pelajaran tertentu.
Dalam hal ini Romine mengkaji dari sudut pandang yang lebih luas,
sesungguhnya penentuan kriteria tersebut hendaknya bertitik tolak dari aspek
tujuan pendidikan, proses pendidikan, dan keadaan para siswa itu sendiri.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut dia merumuskan sejumlah kriteria sebagai
berikut:
1. Kriteria yang berhubungan dengan sifat para
siswa, yaitu apakah isi
kurikulum di dalamnya berguna dalam memuaskan minat dan keingintahuan siswa.
BAB III
PENUTUP
1. Simpulan
Pada dasarnya pengembangan kurikulum adalah mengarahkan kurikulum
sekarang ke tujuan pendidikan yang diharapkan karana adanya berbagai pengaruh
yang sifatnya positif yang datangnya dari luar atau dari dalam sendiri dengan
harapan agar peserta didik dapat menghadapi masa depannya dengan baik.
Proses pengengembangan kurikulum harus bersifat fleksibel dan
komprehensif. Kurikulum sekolah harus bersifat terbuka untuk penyempurnaan.
Serta berdasarkan dari langkah- langkah pengembangan kurikulum yang dikemukakan
oleh Wheeler terlihat bahwa pengembangn kurikulum itu berbentuk sebuah siklus
(lingkaran) yang mana pada setiap tahapa dalam siklus tersebut membentuk suatu
system yang terdiri dari komponen- komponen pengembangan yang saling
berhubungan satu sama lain.
Ideal curriculum atau kurikulum ideal adalah kurikulum yang berisi
sesuatu yang baik, yang diharapkan atau dicita-citakan sebagaimana dimuat dalam
buku kurikulum. Real Curriculum, Actual Curriculum atau kurikulum aktual adalah
apa yang terlaksana dalam proses belajar mengajar atau yang menjadi kenyataan
dalam kurikulum yang direncanakan atau terprogram dalam pendidikan. Kurikulum
Aktual sebaiknya sama dengan kurikulum ideal, atau setidak-tidaknya mendekati
kurikulum ideal walaupun tidak mungkin atau tidak pernah sama dalam kenyataannya.
2. Kritik dan Saran
Dengan sehubung dibuatnya makalah ini untuk memenuhi salah satu
tugas mata kuliah pengembangan kurikulum.Jika ada kesalahan dalam pembuatan
makalah ini kepada para pembaca mohon kritik dan sarannya, guna untuk
membangun.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad dkk, 1998, Pengembangan Kurikulum, Bandung,
CV Pustaka Setia
Idi,
Abdullah, 1999, Pengembangan Kurikulum teori dan praktik,
Jakarta, Gaya Media Pratama
Hamalik, Omar, Prof. Dr. H., Dasar-dasar
Pengembangan Kurikulum, Bandung: PT. Rosda Karya, 2008
http://setia-widia.blogspot.com/2012/04/proses-pengembangan-kurikulum.html
11:35
06 Sep. 13, 11:22
[2] Drs.H.Mohammad Ali M.Pd,M.A.1992.Pengembanhan
Kurikulum di Sekolah.Bandung:Sinar Baru.hal 66-67.
[3] Prof Dr. Nana Syaodih
Sukmadinata.2002.Pengembangan kurikulum teori dan praktek.Bandung:PT remaja
rosdakarya.hal167-168
Komentar
Posting Komentar